Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, 4 April 2016

Wanita Bermata Samudera

Cerpen Eman Nara Sura








Rahasia itu telah mengendap sekian lama di remang bola matanya. Di bola mata itu, aku berusaha menyusuri jalan-jalan terjal yang dilalui ibu tanpa bapak dan aku, anaknya. Tapi bola mata yang remang itu seolah lautan yang selalu bisa menampung segala rindu. Aku tak pernah menyalahkan ibu atas sunyi yang telah tercipta sekian tahun. Juga untuk sepasang bola mata remang yang berat dengan rahasia itu.

Deretan bangku yang kupilih sebagai tempat duduku pada misa1 malam Natal ini tepat di belakang Ibu. Aku sengaja memilih tempat itu untuk merasakan dan menyelaraskan gelombang rindu kami. Aku anaknya, dia ibuku, yang telah terpisah oleh sebab yang akhirnya kupercaya sebagai rahasia ibu. Untuk pertama kali sejak saat yang mengubah jalan perasaanku itu, aku begitu dekat dengan ibu. Dari belakang, ibu tampak seperti wanita desa pada umumnya. Kain sarung yang dikenakannya bermotif bunga. Kebaya hijau tembaganya jauh dari kesan baru namun masih bersih dan terawat dengan baik. Ibu jarang menoleh ke samping kiri dan kanan. Bahkan sepanjang misa, ibu tak pernah menoleh ke belakang. Ia seolah sebuah sunyi yang dingin, yang sepanjang tahun diselimuti salju.

Ketika misa sampai pada bagian doa damai2, ibu dengan tenang menyambut dan memberi salam ke sesama umat di samping kiri dan kananya.

Ketika menoleh ke belakang untuk memberi salam, aku sudah siap untuk menyusuri samudera kecil di remang bola matanya dan menyelam ke dasar samudera itu. Tangannya kujabat penuh kekuatan. Namun, tangannya hanya memegang pelan di tanganku. Secepat kilat aku berusaha menangkap rahasia yang bertahun-tahun lamanya ia simpan di dasar jiwanya. Namun remang bola mata itu tetap dingin. Genggaman tanganku dan cahaya yang berusaha kusapu di samudera kecil di bola matanya tak menimbulkan riak sedikitpun. Malah cahaya dari mataku seolah terserap ke dalam remang bola matanya. Menjadi dingin dan lenyap di dasarnya.

“Apakah ia tidak lagi mengenal aku?” Itu tak mungkin. Tak mungkin seorang ibu melupakan buah rahimnya. Dengan menahan rindu yang bergetar di dalam dada, hanya bisa berdamai dengan rinduku, rindu ibu dan sunyi yang belum juga pecah di antara kami.


***


Ibu pergi dari rumah ketika aku masih kelas 2 SD. Siang itu, ketika pulang sekolah ibu tak ada lagi di rumah. Hanya bapak dengan wajah yang layu dan dingin. Aku masih sangat kecil untuk membaca wajah itu waktu itu. Namun sampai malam ketika ibu tak juga menampakan dirinya, dan aku semakin gelisah, ayah mengerahkan seluruh energinya siap untuk menjawab tanya dan gelisahku. Malam telah menyusuri jalan dan seluruh desa kami. Tak ada lampu listrik. Hanya sinar redup pelita-pelita kecil yang mengisi rumah-rumah seluruh desa. Dan sebentar lagi, setelah makan malam, sinar redup itu akan padam lalu desa akan tenggelam dalam sunyinya yang mistik. Dari seberang pulau kami, orang akan melihat raksasa yang tidur dalam kesunyian yang aneh.

Makan malam tersedia di atas meja. Hanya nasi merah di dalam saringan putih dan semangkuk sayur daun kelor yang direbus begitu saja dengan garam dan beberapa iris bawang putih. Setelah mengambilkannya untukku, bapak mengambil bagiannya.

“Ibu di mana?” aku bertanya dengan suara lirih menahan tangis.

“Makan dulu.” Suara bapak tegas memerintah.

“Aku tak mau makan!” Kali ini air mataku tak terbendung lagi. Mengalir deras di pipiku. Bapak kelihatan salah tingkah namun berusaha kuat untuk menyimpan kesedihannya untukku. Tangannya yang kasar itu menyeka air mata dari pipiku.

“Tidak baik air mata jatuh ke dalam makanan. Makanan ini dicari dengan susah payah jadi kau harus menghargainya,” ayah berkata sambil menyeka lagi air mataku.

“Aku tak mau makan kalau bapak tidak katakan di mana ibu,” sambungku menyerang bapak.

Bapak akhirnya mengalah. Sambil memegang tanganku, ia berkata, “Mulai hari ini, hanya kita berdua. Ibumu telah pergi dari rumah ini.”

“Kenapa? Bapak mengusir ibu, ya?” sambungku sambil menatap ke dalam matanya. Bapak merangkulku, menyandarkan kepalaku ke dadanya, berusaha menghindari tatapanku. “Bapak tidak usir ibumu. Ibu yang mungkin tak bisa lagi hidup bersama bapak,” suara bapak menyapu rambutku.

“Memangnya kenapa?” Aku berusaha menyudutkan bapak, berharap ada jawaban lain yang lebih masuk di kepalaku. Bapak semakin kuat mendekapku.

“Pada saatnya nanti kau harus menemukan jawaban itu, bapak tak akan menyampaikan kepadamu,” katanya sambil mengelus-elus pundakku. Air mataku semakin deras. Aku merasakan baju bapak basah. Namun aku tak sanggup menahan laju air mata itu. Lampu pelita di atas meja makan semakin redup. Bapak berusaha membujukku untuk makan. Namun apalah aku ini, aku tak akan mati meskipun tak makan malam ini. Kepergian ibu adalah pedang yang mengiris-iris jantung hatiku. Aku tak akan makan malam ini. Aku hanya ingin menangis. Menangis sampai kesedihan ini luruh dalam tidur dan gelapnya malam. Menangis sampai mimpi datang merenggutku. Lalu aku akan bangun dan menjadi manusia baru. Aku akan melawan segala bentuk kesedihan dengan dingin.

Sejak saat itu, hanya aku dan bapak. Setelah kelas 4, aku dikirimkan bapak sekolah di kota, tinggal di rumah seorang kenalannya. Ibu memang masih tinggal di kampung yang sama dengan bapak, tapi di rumah orang tuanya. Sejak itu, ibu menjadi manusia sunyi. Ia hanya bersosialisasi seadanya dengan tetangga dan orang-orang di kampung kami. Ketika kembali ke kampung beberapa kali saat liburan, aku berusaha menemuinya namun tak pernah berhasil. Ia selalu bisa menghindar. Aku memang tak pernah bertanya perihal kepergiannya dari rumah kepada siapapun, aku lebih suka membiarkan itu sebagai rahasianya. Aku lebih suka membayangkan ibu memelukku dan aku menangis dalam dekapannya. Namun, sampai saat yang paling menguras perasaan rindu tadi, aku belum diberi kesempatan untuk memeluknya. Ia masih sedemikian dingin.


***


Misa belum selesai, namun aku memilih pulang lebih dahulu. Aku meninggalkan bangku ketika panitia perayaan Natal sedang membacakan pengumuman. Pohon natal dan lampu-lampunya natal yang kerlap-kerlip seperti tangan-tangan malaikat yang terayun melambai mengirimkan ucapan selamat jalan. Ibu masih di bangkunya. Tenang dan hampir tak bergerak. Aku tak tahu bila samudera di tengah bola mata yang remang itu begitu tenang. Setelah musim-musim berlalu, ia masih sanggup mengendalikan rasanya. Aku sering mengharapakan rindunya akan menjadi badai yang menggelorakan samudera di matanya, lalu sekedar memelukku. Namun Ibu telah menjadi serupa penyihir dengan jimat yang mampu meredam rindunya untuk memeluk buah rahimnya.

Aku hanya bisa memaklumi ibu. Memahami beratnya rahasia yang ia simpan di dalam hatinya. Dan aku selalu membayangkan bagaimana ia menangis dalam doa dan rindunya padaku.

Aku merasakan getar rindu yang dalam. Dalam rindu yang perih itu, aku berjalan pulang sendirian. Jalanan masih belum juga beraspal setelah puluhan tahun. Hujan yang sering turun akhir-akhir ini membuat air tergenang di beberapa badan jalan. Bapak masih di gereja, mungkin menghabiskan doa-doanya yang tersimpan di dada.

Aku melangkah dengan dada kosong. Sosok ibu yang tadi begitu dekat denganku kini larut dalam perihnya rindu.


***


Jam 11.00 malam. Aku dan bapak duduk di meja makan. Piring dan mangkuk berisi daging yang kumasak sore tadi tersedia di atas meja. Suasana begitu hening. Hanya alunan lagu-lagu Natal yang terdengar dari dalam kamarku.

Setelah menyantap makanan seadanya itu, ayah berujar, “Rahasia terbesar dalam hidup kita adalah rindu.” Aku diam saja, menatap matanya, mencoba memaknai kata-kata tersebut. Denting piano lagu Malam Kudus seperti berlompatan di seluruh ruangan. Sambil mengalihkan pandangan ke dinding tempat sebuah lukisan seorang wanita bermata samudera, bapak berujar lagi, “Kuharap kau bisa menjaga rindumu, karena rindu berarti berjaga bersama Tuhan.” Kata-kata itu membawaku menuju samudera di remang bola mata ibu. Sampai kapan aku harus berjaga bersamaNya sedang di sana-sini orang merayakan kedatanganNya.



1 Misa: Upacara ibadat (perayaan ekaristi) dalam gereja Katolik, yang di dalamnya roti dan anggur dikurbankan sebagai lambing tubuh dan darah Kristus

2 Doa Damai: salah satu bagian dari perayaan ekaristi






Wednesday, 18 November 2015

Sepotong Malam Di Hokeng

Oleh Hengky Ola Sura



Dari teras samping rumahku yang sudah mulai uzur ada bulan purnama di langit. Sebatang gudang garam menemaniku menonton atraksi cantik perarakan bulan di langit. Bulan tak tidur. Demikian kata saudaraku yang baru saja pulang menyulu dari pantai selatan, kampung bernama Pante Oa. Seharusnya kata pante itu disebut pantai tapi karena deretan vokal atau yang biasa disebut diftong maka orang kampung menyebutnya langsung pante, kata ai-nya hilang atau luluh. Sebetulnya bukan saja orang kampung tapi justru kata-kata bahasa Indonesia itu rusak juga dari kata-kata slangean-nya orang-orang di kota. Yang katanya lebih mentereng. Kata mereka lagi mereka lebih dahulu mengetahui hal terbaru ketimbang orang di kampung. Huh dasar orang kota. Bulan tak tidur, demikian kata saudaraku. Dari tas karungnya ikan dan cumi-cumi ia tumpahkan pada baskom. Hanya sedikit, demikian katanya pada ibu. Malam ini bulan terang. Aku cuma mendengar saja dalam hati aku sebenarnya ingin menyela, kamu sih lupa bertanya pada ayah. Ayah seorang pelaut. Lahir dari kakek yang sejak kecil mengajaknya mencintai laut. Amuk gelombang laut Sawu tak pernah ayah takut. Tapi sejak jatuh hati pada ibu, ayah pergi dari laut, membangun impian hidupnya dari hasil-hasil kebun di Hokeng. 


Hokenglah yang membawa ayah pergi dari laut. Ayah suka sekali mendongeng buat aku dan saudara terkecilku tentang masa kanak-kanaknya. Katanya, ayah paling jago menembak ikan sambil menyelam. Aku dan saudara terkecilku terkagum-kagum. Bangga pada ayah yang berkisah tentang amuk pantai selatan yang menggelegar setiap kali menghantam pasir pantai di tanah kelahirannya. Semua saudaraku pandai berenang. Mungkin karena mereka lahir di kampung halaman ayah. Masa kecil mereka adalah laut. Lautlah yang melingkupi mereka dalam menikmati masa kanak-kanak. Hingga kini saat mereka jauh dari laut sekalipun ketika berada di dekat laut, laut seolah menjaga mereka. Berbeda dengan aku dan saudara bungsu. Kami lahir di pegunungan. Laut kadang membuat kami iri. Kami cuma bisa mengagumi laut. Ayahlah yang melarang aku dan saudaraku untuk tidak selalu menjalin relasi paling intim dengan gadis-gadis pesisir. Ayah takut usia perkawinan kami dengan mereka tak berumur panjang. Ayah takut kami mati di laut. Ah aku heran saja. Tapi aku heran kenapa ayah tak melarang saudara nomor tigaku saat ia berangkat ke laut tadi. Saudara dan ibuku sibuk membersihkan sisik ikan dengan senter ayah.
 

Listrik di Hokeng malam ini padam, sudah bosan mengeluh, begitu tutur tanta tetangga sebelah rumah sejak sore tadi listrik padam. Hokeng itu semuanya sudah oke sayangnya listrik tak pernah nyala dengan tertib. Buru-buru saudaraku meletakan kembali senter ayah yang dipakai saat menyulu dan membersihkan ikan tadi ke kursi di dekat tempat tidur ayah. Ayah sudah tertidur pulas. Dari dapur aroma ikan goreng dan kua asam menusuk lubang hidung. Mengundang selera makan. Tetangga-tetanggaku mungkin saja terbangun dari mimpi. Angin dingin malam mengantarkan aroma ikan segar itu ke pori-pori dinding rumah mereka, kemudian menyusup menyerbu lubang hidung mereka. Hidung manusia memang merupakan indra penciuman yang kadang membangkitkan gairah untuk menjadi rakus. Tapi hidung yang paling rakus adalah hidung yang mencium bau uang dan mendapatkannya dengan tidak wajar. Syukur bahwa hidungku tidak demikian dan terus berdoa semoga hidungku tidak silau dengan bau uang. Aku berharap semoga hidung para tetanggaku malam ini tidak sampai rakus lalu bangun menyerbu rumahku untuk turut makan ikan segar yang hanya cukup untuk ayah, ibu,aku dan saudaraku.

Atraksi bulan purnama di langit makin menarik untuk ditonton. Bulan bergerak ke arah timur, dilingkupi pelangi dengan dominan warna kuning keemasan. Awan putih bersih berlajur-lajur apik berarak di depan bulan. Mereka ke timur, menjadi pengiring bulan, menjemput matahari yang esok datang. Ibarat ritus pertunanganan, awan dan pelangi adalah delegasi yang membawa bulan menemui keluarga matahari, meminta restu kepada Sang Tuhan agar esok matahari bersinar ke bumi. Bulan adalah satelit bumi. Matahari harus menjadi penopang bagi bumi.
 

Asap rokokku mengepul, membumbung tinggi, hasil tarikan dalam-dalam dari rongga mulut dan otot-otot pipiku. Jangan terlalu setia pada rokok. Ah ibu, jika disuruh rokoknya diperkurang mungkin tapi disuruh berhenti nanti saja setelah mati. Jika saja di dunia orang mati, merokoknya bebas, jelas merokok tetap harus dilanjutkan. Peringatan bahaya merokok oleh dokter dan pemerintah bagiku bagai penjajahan terselubung. Larangan dokter saat ku keluhkan dadaku yang sakit adalah berhenti merokok. Kecemasan dokter mungkin saja terlalu berlebihan. Mau jadi apa petani tembakau jika rokok tidak diproduksi lagi. Ngeri bercampur miris membayangkan masyarakat Rura, kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai yang seharian bekerja sebagai petani tembakau. Sebulan lebih pelesir dan ada bersama mereka, kami sungguh menikmati pagi saat menjemur irisan tembakau pada para-para mirip penjemuran ikan suku pengembara laut di Ndete, kecamatan Magepanda, kabupaten Sikka. Ketika mengering tembakau tersebut dijual ke Ruteng, Reo dan juga ijon yang langsung datang ke kampung Rura. Sebagiannya lagi disimpan buat persediaan merokok. Tinggal dilinting dengan daun koli, dihiris serapih mungkin, diikat membentuk sebatang rokok, asap pun mengepul dari rokok paling alami ini. Pertama kali mencobanya batuk-batuk, lama-kelamaan makin nikmat. Apalagi ditambah segelas kopi pahit. Satu kata saja untuk melukiskan kenikmatannya, perfecto. Kopi dan rokok adalah seperti perpaduan persenyawaan pengganti ion tubuh yang hilang. Seperti salah satu iklan kopi, orang Indonesia berjiwa pemberani. Saya jadi punya mimpi buat iklan kopi pahit. Tak perlu gula dan campuran lainnya. Minum kopi pahit. Khasiat kopi pahit mampu mencuci isi perut dan membuat tubuh lebih fit. Tidak percaya ya coba saja. Percobaan pertama dijamin perut mules-mules dan bunyinya menggemuruh bagaikan gunung api yang meletus kecil-kecil mirip gunung kembar dengan satu anak bernama gunung Lewotobi di Hokeng. 

Ayo makan, seru saudaraku dari meja makan. Kami makan. Benar-benar lesat. Nanti kalau istriku mengandung, aku sendiri yang terjun ke laut, menyulu dan mencari ikan terbaik, cumi-cumi dan udang. Kandungan protein yang bagus cocok buat bayi dalam kandungan istriku, kata saudaraku ketika kami asyik makan. Dari ruang tamu jam dinding berdetak, terdengar suara, waktu sekarang menunjukan tepat pukul 24.00. tak peduli, kami terus makan. Anakmu pasti cerdas. Oh jelas, sela saudaraku. Kalau istrimu yang mengandung, apa yang kamu berikan? Ah ku beri saja kopi pahit. Masa kopi pahit. Iya, supaya anak dalam kandungan istriku tahu bahwa di dunia luar kandungannya, hidup itu getir. Hidup itu pahit. Untuk memaniskannya orang harus terlebih dahulu berusaha. Berusaha semampu mungkin. Saat-saat berusaha adalah saat-saat pahit. Tak takut terjadi apa-apa? Tidak, tak peduli, hehehe, kataku sambil tertawa kecil. Minum kopi pahit itu sudah ada sebelum Hipokrates, bapak dokter yang membidani lahirnya kebidanan itu melahirkan ilmu yang namanya kedokteran, kebidanan, keperawatan dan sejenisnya. Acara makan selesai. Obrolan berlanjut di teras rumah lagi. Bulan purnama di langit terus berarak dengan pengiringnya ke arah timur. Ayah dan ibu sudah lelap. Entah apa yang mereka bawa dalam mimpi tidur mereka. Esok kamu pergi lagi. Berpetualang, terus kapan kembali ke Hokeng? Aku pasti kembali jika kopi pahit dalam darahku mulai perlahan mengental dan mengering, aku pasti pulang meminumnya tentu dengan air minum Hokeng yang paling manjur dan berkhasiat dari mata air Boru Kedang itu. Ah sembarang saja, tinggal bawa kopi saja to. Saya nikah tanggal dua puluh bulan depan, kamu hadir? Diusahakan. Ya, seperti bulan purnama dilangit dengan pengiringnya menemui matahari demi cahaya untuk bumi, kita semua kakak beradik harus hadir. Bulan memang kadang muncul sebagian, kadang muncul seluruhnya. Pernikahan bukan soal target tetapi soal kesetiaan, bulan kadang-kadang memang tak setia tapi saat tak setia bulan meberikan kesempatan untukmu agar turun ke laut, menyulu dan memancing demi buah hatimu. Jangan lupa bertanya pada ayah sebelum melaut. Kami tertawa. Malam di Hokeng tinggal sepotong. Asap rokok terakhir mengepul membumbung tinggi menuju langit turut mengiring bulan menjemput matahari.






Hengky Ola Sura, pernah aktif di Komunitas Baca dan Sastra Lamalera, Komunitas Sandal Jepit. Saat ini bekerja sebagai Koordinator Divisi Informasi dan Dokumentasi LSM PBH NUSRA.






















Thursday, 17 June 2010

Perempuan Masa Lalu

Oleh Hengky Ola Sura
Kru Seniman Kata Uniflor

Tidak ada lagi yang tersisa untuk kukenang dari sebuah pantai yang setia menunggu debur ombak, selain tentang seorang perempuan dengan tangisnya yang berderai sepanjang hari di awal pertemuan kami pada sebuah pantai. Terakhir kali dia mengirimkan pesan singkat untukku bahwa ia akan menikah dengan lelaki pilihan ibunya. Aku jadi tahu bahwa menikah bukan untuk impiannya melainkan demi nama baik dan status keluarganya yang berdarah biru. Lama aku termenung menelaah isi terdalam dari pesan singkatnya. Ia sama sekali tak membahasakan tentang sedih atau rasa terlukanya menuruti keinginan ibunya. Benar juga menikah di saman ini bagi orang tua adalah melihat bibit, bebet dan bobot. Dan untuk ketiga pokok penting itu aku sama sekali tak masuk nominasi. Bosankah ia menjalani hubungan cinta denganku yang hanya cuma perhatian seadanya dan bait-bait puisi setiap hari-hari yang lalu? Cinta pada gilirannya adalah soal hidup, dan hidup bukanlah puisi melainkan realita. Dan ah aku kalah. Aku ingin menangis sejadi-jadinya tapi untuk apa juga menangisi sesuatu yang pada akhirnya tak dapat ku genggam untuk sebuah kesejatian paling hakiki dari diriku. Ku tak pedulikan lagi semua yang pernah terjalani. Ini bagian dari kekelaman perjalanan cinta. Ada yang bilang ketika kita mencinta maka kita harus siap untuk terluka. Dan itu menjadi semacam sebuah peneguhan untukku. Memang menyakitkan tapi aku percaya bahwa pasti ada bunga pujaan baru yang datang untuk disematkan pada perjalanan hari-hari yang akan datang. Semalam suntuk aku mengenangnya. Aku hanya bisa diam dengan lagu-lagu patah hati yang semakin melengkapi penderitaan dari sebuah duka perjalanan cinta. Semua kenangan tentangnya belum bisa ku hapuskan dengan cepat. Menjelang pagi aku cuma bisa terbengong depan meja belajarku dan sebuah puisi tentang kedukaannya ku tulis. Entahlah. Aku tak pernah tahu apakah keputusannya meninggalkanku adalah sebuah kedukaan. Aku tak peduli tetapi sedikit punya keyakinan bahwa ia juga pasti cuma bisa memejamkan mata tanpa pernah lelap tertidur. Sungguh tak tertidur. Dengan kopi kental yang mulai mengering di gelas dan asap rokok yang terus mengepul aku hanya bisa membahasakan sebuah ode untuknya. Inilah ode perempuan yang aku tulis untuknya;

ode untuk perempuan

untukmu
ingin ku rajutkan segenap malam
dari
tumpahnya harapan
yang ditelantarkan hujan

engkau bercerita padaku
tentang mimpimu yang sunyi
tentang impian berada di hutan
tentang impian berada di bukit
tentang impian berada di lautan
tapi itu hanya mimpimu yang sunyi

engkau bercerita padaku
tentang mimpimu yang gelisah
tentang impian melarikan diri
tentang impian bunuh diri
tentang impian mati yang tragis
tentang impianmu bebas dari kepasungan cinta
tapi itu hanya mimpimu yang sunyi

perempuan
oh perempuan
engkaukah yang merintangi cintamu
dengan ceracau bundamu untuk berbakti
lalu engkau terkapar dalam belenggu

perempuan
oh perempuan



Aku lalu tertidur berharap memimpikan kehadirannya dalam mimpiku pada malam yang hampir usai. Aku tak peduli, aku mau terus tidur sampai puas dan aku bangun. Aku berharap esok ketika aku bangun semua tentangnya telah dapat kulupakan.
Tepat pukul 9.30 pagi aku sadar dan rumah kontrakan terasa benar-benar sayu, sunyi. Hanya ada aku. Ray, Fandy, Oken, Luken dan Albert yang adalah kawan-kawan sekontrakan telah berangkat ke tempat kerja mereka masing-masing. Kami memang sahabat tak terpisahkan tapi soal perempuan, masing-masing kami tak mau terlalu mencampuri urusan seorang diantara kami. Aku bangun langsung menuju kamar mandi. Ada kesegaran yang menyusup setiap inci dari tubuhku saat ku sirami tubuhku. Usai mandi dan segelas mocca, sepotong roti menjadi sarapanku. Aku malas menjalani hariku. Ku putuskan tak masuk kerja. Reportase yang harus ku kerjakan untuk feature aku tangguhkan. Sehari-hari aku bekerja sebagai jurnalis freelance untuk berbagai koran dan mengajar sore pada sebuah sekolah menengah atas untuk bidang studi keterampilan menulis. Aku sebenarnya cuma mau mengisi hari-hari mudaku dengan mencoba segala jenis pekerjaan sampai aku menemukan yang cocok. Untuk saat ini aku menikmati pekerjaanku sebagai jurnalis freelance dan pengajar di sebuah sekolah menengah atas. Penghasilanku cukup untuk membiayai hari-hariku dan sedikit untuk deposito. Aku jengah, ternyata bayangannya masih terasa begitu dekat padaku. Aku benar-benar merindukannya tapi aku tak mau lagi untuk menghubunginya. Cinta memang tak berdaya didekapan warna-warni dan pilihan untuk hidup. Aku heran tapi harus mempercayai kenyataan bahwa masih ada orang tua yang harus ikut campur dalam menentukan pasangan hidup anaknya. Ataukan ia cuma berbohong karena telah menemukan lelaki lain yang lebih mampu memberikannya rasa sayang dan kenyamanan. Ah Lira kenapa kamu terasa begitu berarti saat tak lagi denganku. Aku jadi galau mereka-reka apa sebenarnya yang terjadi. Lira memang pernah mengungkapkan kekesalannya padaku tentang tuntutan orang tuanya agar mencari pendamping hidup yang sepadan dengan status sosial dan kedudukan keluarganya. Ia kadang-kadang mengeluh bosan berada dalam segala kemewahan rumahnya dan mau berada di hutan. Mau bunuh diri dan sebagainya. Aduh Lir, kamu punya segalanya, sedang aku cuma bisa memberikan kamu puisi. Itu saja. Kata-kata itu terucap saat Lira memintaku mengantarkannya ke rumah usai bekerja dari kantornya. Dan apa yang terjadi, ayahnya mengusirku secara halus. Hai anak muda, kamu punya nyali juga ya mau menikah dengan putriku? Terima kasih telah mengantar putriku, tapi semoga kamu cukup tahu diri. Aku tak bisa bilang apa-apa selain putar haluan dan hilang dengan kimco bututku. Aku ke pantai menikmati suasana pantai tempat aku bersama Lira biasa saling melepaskan segala kerinduan yang terbersit. Aku cuma bisa duduk diam memandang ombak pantai yang lembut mengecup bibir pantai. Aku jadi teringat Lira yang hanya bisa diam mendengar kata-kata ayahnya. Lira memang malas berdebat, apalagi dengan ayah dan ibunya. Dia pendengar yang baik dan seorang dengan kemampuan intelektual yang menjadi satu alasan mengapa aku benar-benar gila sama Lira. Rasanya aku bukan orang yang tepat Lir, demikian pesan singkat ku kirim untuknya. aku mengasihi Lira, tapi aku tak berdaya. Dia membalas pesan singkatku, maafkan aku Rein,tak dapat membelamu di depan ayah. Aku lalu membalasnya, tidak apa-apa Lir, kita mesti realistis. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa buat hidupmu. Lira langsung meneleponku dan dari handphoneku ku dengan Lira hanya bisa menangis. Tangisnya tumpah, ia menangis sejadi-jadinya dan hanya mampu bilang maafkan aku ya Rein.

###

Aku pergi dari kotanya. Tak ada yang dapat ku ucapkan lagi. Diam-diam aku pergi meninggalkan Lira. Aku tak mau ia tahu. Aku hanya ingin ia dapat dengan tenang dan pasti menerima lelaki pilihan ibunya. Aku kembali ke kotaku. Sahabat-sahabat yang sekontrakan denganku dengan semangat memotivasiku untuk tidak larut dalam kekalahan pesiarahan cinta. Aku menggantikan nomor handphoneku, semuanya sengaja aku lakukan agar Lira tak lagi menghubungiku. Tapi aku yang jadi dilema, jangan-jangan aku malah yang nanti menghubunginya. Ah, tak peduli. Aku kembali ke kotaku. Dua tahun berjalan dan aku mulai dapat menerima kehilangan Lira dalam bingkai kenangan perjalanan cintaku. Lira memang telah menjadi perempuan masa lalu yang mengajarkan aku untuk secara ikhlas merelakannya dicintai oleh lelaki pilihan ibunya. Saat bayangan Lira mulai hilang, kemarin malam Albert meneleponku memberitahukan tentang pernikahan Lira yang akan berlangsung bulan depan. Dan melalui Albert, Lira memintaku untuk mengahadiri resepsi pernikahannya. Aku tertawa dan bilang mudah-mudahan bro. Entah mengapa tiba-tiba segala kenangan tentang Lira pada masa yang lalu terasa begitu dekat denganku. Aku benar-benar merindukannya. Dengan sisa keberanian dan rasa rindu yang memblingsatnya aku menelepon Lira. Dari seberang terdengar suara lembutnya. Hallo, hallo selamat malam ini dengan siapa ya? Lir, ini aku. Rein, Rein kamu dimana sayang? Lira lalu menangis dan terus menangis. Rein sayang......Lira terus menangis dan diakhir tangisannya Lira memintaku untuk segera datang ke kotanya. Untuk terakhir kalinya aku mohon Rein, tolong ya temui aku di tempat biasa, pada pantai di kotaku dulu kita mengarungi kebersamaan.

Bulan di atas kota dan selembar potretnya masih ku simpan. Aku lelaki kini datang ke kota mantan kekasihku untuk memenuhi permintaan terakhirnya. Lama aku menikmati kesendirian di pantai menunggu datangnya Lira. Dan aku terpana ketika Lira datang menemuiku di kedai dekat pantai tempat dulu kami menjalin cerita cinta kami. Lir, kamu semakin cantik, tubuhnya yang semampai dengan kulit hitam manis. Ia kelihatan cerah. Kamu juga Rein, dari dulu aku selalu menyukaimu bahkan sampai saat ini. Ah apa-apaan lagi Lir, sebentar lagi kamu menikah dan aku harus kembali ke kotaku. Rein, jangan pernah berpikir bahwa aku bahagia. Aku bahagia saat ini karena aku menemui kamu lagi Rein. Memang selanjutnya kita tak lagi bersama, tapi aku mohon Rein dengarkan curhatku. Setelah semua kebahagiaan denganmu Rein, aku berat menerima kenyataan bahwa aku harus menjadi istri dari lelaki pilihan ibuku. Aku menjadi istrinya yang tak ku cintai setengah mati seperti aku mencintaimu Rein. Kita pernah punya mimpi yang sama tentang rumah impian dan anak-anak kesayangan kita. Tapi aku tak kuasa lari semua kenyataan ini Rein. Kebahagiaanku denganmu tak akan pernah bisa dibayar dengan bergelimangnya harta, rasa sayang untukmu tetap ada Rein, sampai aku mati sekalipun. Aku merasakan dadaku berdesir, ingin ku ringkus tubuh ayunya dalam pelukanku, tapi aku tak mampu. Aku kagum akan kebersehajaannya. Ia telah belajar banyak untuk menerima semuanya dengan realistis termasuk mengorbankan cinta sejatinya. Seperti dulu, aku kembali menanamkan makna kebersehajaan kepada Lira. Hidup ini seperti aliran air Lir. Apapun yang terjadi aku mau kamu menjalaninya dengan tegar. Kita tak pernah tahu aral apa yang bakal menghadang di depan kita. Yang pasti hidup akan terus mengalir, terus berlanjut, entah sampai kapan Lir. Dari matanya yang indah aku melihat ada yang meleleh dari kelopaknya. Lira menangis. Ku beranikan diri menyeka air matanya dan aku berdesis dalam diamku, Tuhan, wanita ini terlalu sempurna untukku. Malam semakin malam dan Lira mengajakku menyusuri pantai. Ku tolak tawarannya. Dengan rendah hati aku meminta ia segera pulang. Aku antar dia menaiki mobilnya. Sebelum naik ia memelukku erat-erat. Mengingatkanku bahwa ia akan selalu menghubungiku. Dengan gagu aku berkata, terima kasih Lir, masih menyisakanku kenangan. Dengan lancang aku mengecup keningnya. Lira berlalu, dan bulan di atas kota semakin benderangya, selembar fotonya ku lihat lagi. Aku membathin dan pergi juga dari pantai di kotanya. Ah perempuan masa lalu, ku doakan dengan tulus semoga hidupnya bahagia sampai akhir hayat. Aku memang tak perlu lagi datang ke pesta pernikahannya. Aku pulang dan segera aku menelepon perempuan impianku, kekasih baruku. Hallo Oping sayang, dan ia menjawab mesra, segera pulang sayang, aku rindu. Ah hidup di dunia fana kadang-kadang buatku ingin hidup lebih lama dan kadang-kadang ingin segera mati.

(Ende, Malam Minggu, 10 April 2010, didedikasikan untuk kawan-kawan kelas H dan I Jurusan Sastra Indonesia, persahabatan kita bagai kepompong)

Ayah dan Perempuan Pilihan

Oleh Hengky Ola Sura
Kru Seniman Kata Uniflor Ende

Cahaya matahari yang menyorot pagi di Hokeng bukan hanya melahirkan harap, tetapi juga rasa takjub. Pagi hari ketika angin musim bulan April menyusup tubuh, cahaya matahari begitu menggairahkan. Pagi yang baru itu menjadi suatu konsep yang baru bagi orang-orang Hokeng. Entahlah, konsep apa, tapi menurut penuturan Ayah, orang-orang Hokeng itu sudah maju no, begitu kata ayah membanggakan Hokeng. Aku sendiri heran kok bisa-bisanya ayah omong konsep. Tapi ayah memang selalu demikian, ia cukup banyak membaca buku-buku bacaan dan Pos Kupang menjadi santapannya setiap siang usai santap kemudian terlelap. Jadi saya pikir ayah memang lumayan oke perbendaharaan kata-katanya kalau ngomong. Biar kamu sekolah no, tapi sabar dulu kalau soal pemahaman, begitu ayah kadang membanggakan dirinya. Kami anak-anaknya yang berlibur menyongsong Hari Raya Paskah cuma tertawa lepas dan ikut memuji ayah dalam hati kami. Pagi yang cerah saat santai dengan gelas-gelas kopi Hokeng yang kental dan asap rokok Surya yang mengawang di teras belakang, ayah membuka percakapan. Bagaimana putra-putra kesayanganku ada yang sudah punya perempuan buat dibanggakan pada ayah? Kakak yang nomor tiga bilang, bos saya punya perawat, saat ini lagi kuliah di Yogya, adik bungsuku bilang beta pung anak Bajawa bos, kuliah Bimbingan Konseling di Kupang. Dan saya sendiri bilang saya juga sudah punya bos, orang Maumere, kuliah Managemen Informatika di Bali. Yakin bahwa itu tetap menjadi milik kamu atau hanya untuk menjalani saja ketika bosan dan cari baru lagi. Yang paling bungsu bilang untuk saat ini masih aman bos. Oh jadi kalau masih aman dijalani kalau tidak aman lagi diputusin, begitu? Ah bukan begitu bos. Hei no jangan main-main dengan anak orang. Kalau mau cari perempuan harus seperti ayah dan abangmu yang nomor satu dan dua itu. Lihatkan ibu kamu, kakak ipar kamu dari abang-abangmu. Cari perempuan itu harus begitu no. Jangan hanya tampilan fisiknya yang oke terus isi kepala dan hatinya kosong melompom, kamu mau konsep apa nanti untuk kemajuan dan kebahagiaan keluarga kamu. Wouw dari tadi kayaknya konsep melulu ya bos sergapku. Iya konsep itu penting no. Orang-orang Hokeng sekarang itu sudah pintar-pintar meskipun tidak sekolah tapi karena anak-anak mereka sekolah jadi mereka juga ikut pintar. Seperti ayah tidak sekolah tapi punya tekad yang kuat untuk menyekolahkan kamu. Kami tersenyum-senyum mendengar omongan ayah. Saya orang yang termasuk paling malas membantah omongan ayah. Mengapa? Karena kalau bertentangan maka kata kuncinya satu saja, konsep macam apa itu. Bodoh sekali. Kata bodoh sekali telah membuat saya malas berdebat dengan ayah, tapi diam-diam saya mengagumi ayah. Seorang tukang batu dan petani yang gemar membaca di setiap waktu luangnya. Sekarang ayah tidak lagi bekerja. Ia mengisi hari-hari hidup diusia tuanya dengan membaca. Hebatnya ayah, matanya masih sangat jeli membaca tanpa kaca mata. Orang-orang di sekitar rumah bilang, ayah kamu kalau dulu sekolah pasti kepala sekolah ya? Adik yang bungsu langsung sambar bukan kepala sekolah tetapi kepala dinas. Dan orang-orang di sekitar rumah mengangguk-angguk setuju. Huh dasar ayah. Sekarang kamu bertiga jelaskan pada ayah tentang perempuan pilihan kamu pada ayah. Mungkin ayah punya konsep untuk mematangkan hubungan kamu dengan perempuan-perempuan kamu. Wuih ayah ni macam psikolog saja le, mau saingan dengan maitua saya kok, lagi-lagi si bungsu menanggapi ayah. Oh bukan mau saingan no tapi soal pengalaman. Ayah punya pengalaman. Yang bungsu menimpali lagi, saya juga sudah makan garam bos untuk urusan perempuan. Hehe anak bungsu makan garam? No masih makan garam, baru makan garam juga gara-gara e. Kalau no makan garam, ayah lebih no, karena no baru makan garam tapi ayah sudah minum air laut. Ayo yang lebih hebat mana? Makan garam atau minum air laut. Wouw dahsyat, kakak yang nomor tiga bilang macam hebat-hebat saja e bos ni. Bukan hebat no, tapi berdasarkan kenyataan. Ayah tidak mau kamu hanya senang-senang dengan perempuan. Perempuan pilihan kamu itu harus menjadi idola kamu sepanjang hidup. Memang ada hambatan dalam membangun keluarga, tapi itu patut dilihat sebagai semacam tikungan tajam untuk kembali menemukan jalan lurus. Saya cuma bisa merenungi kata-kata ayah. Punya kekuatan magis dibalik ayah mengungkapkannya. Perlahan, pelan-pelan dan penuh kewibawaan. Sosok ayah sejati. Dan kami terbuai mendengar petuah ayah sambil dengan santai menikmati kopi kental dan rokok surya yang asapnya mengepul membumbung di langit-langit teras rumah. No perempuan itu gampang tapi cinta itu tidak gampang. Kamu boleh hari ini mendapatkan perempuan terus esok mau dapat lagi juga bisa tapi soal mencinta itu bukan main-main. Tidak gampang. perempuan itu sosok kehidupan yang terlahir dari firdaus, kamu haus belajar mencintainya dengan cinta sekuat maut. Sekuat maut no, ingat itu. Bagaimana dengan perempuan kamu yang di Bali itu? Saya kaget kok ayah bertanya pada saya duluan. Kamu itu paling santai. Tipe pengkhayal, suka puisi, buku-buku harian kamu di lemari sana itu penuh puisi. Jadi jangan hanya jago buat puisi tapi bagaimana punya konsep untuk paling kurang jadi sastrawan Hokeng juga sudah mendingan buat mendidik anak-anak Hokeng. Ah jadi ayah menghina saya? Tanya saya dengan serunya. Bukan menghina no, tapi test mentalmu. Orang sastra itu perasa. Pantas, nadamu langsung meninggi. Tidak terima omongan ayah? Tanya ayah padaku. Bukan begitu bos, tapi saya juga punya idealisme untuk hidup saya dan masa depan saya. Jadi ketika ayah bilang hanya jago tulis puisi jelas saya tidak terima bos. Puisi itu tidak datang dari khayalan kosong dan tak sekedar hambur-hambur kata bos. Datang dari permenungan yang mendalam. Jadi hati-hati kalau omong. Minta maaf putraku, balas ayah, tapi jujur ayah suka baca puisi-puisimu pada buku harian itu. Mendalam sekali. Coba tanyakan pada ibumu, karena ibu selalu berurai air mata ketika membaca puisi-puisimu. Entahlah ibu cukup mengerti atau tidak. Ibu yang lagi asyik bermain dengan cucunya dari abang nomor duaku langsung meladeni, huh dasar sok pintar. Ayah tertawa dan sorot matanya meminta penjelasan lebih lanjut dariku. No, begena? Saya merasa sapaan ayah yang barusan benar-benar menyentuh, dari tadi ayah selalu dengan omongannya yang bahasa Indonesia lengkap dan tiba-tiba ketika ia menyapa, no begena, saya merasakan aura kehangatan yang terpancar dari omongan dan tatapan mata ayah. Saya menatap ayah lalu abang saya yang nomor tiga dan bungsu. Mereka memperhatikan dengan diam. Memberikan waktu pada saya untuk menceritakan pada mereka tentang perempuan saya. Belum memulai cerita, ibu langsung sambar dari ruang tamu, kamu sama ayah kamu urus perempuan terus e no. Yang paling penting itu sekolah no. Sekolah dulu. Masih sekolah sudah pikir perempuan nanti setelah nikah mau makan apa? Makan perempuan? Cerocos ibu dengan suara lembut. Ibu memang tak selalu mengeluarkan suara yang keras apalagi sampai marah-marah. Dan itu membuat kekagumanku pada ibu bertambah. Setelah itu ibu diam. Ibu memang tak mau mengusik ayah dan kami bertiga lagi setelah memotong pembicaraan ayah tadi. Cerita sudah no, kata ayah. Saya punya perempuan bos, hitam manis, hidung mancung, hatinya manis sekali, cantik, pintar masak dan kemampuan Inggrisnya telak bos, begitu kata-kata saya pada ayah, abang nomor tiga dan si bungsu. Saya kemudian melanjutkan, bagi saya dia perempuan terakhir tempat saya melabuhkan semua harapan cinta saya. Kami telah sangat mengenal dengan sebegitu mendalamnya. Cinta kami ibarat dua kekuatan alam, matahari dan ombak. Punya kesetiaan menerangi pendarnya cinta dan kesetiaan mendebur. Jadi kami punya komitmen untuk saling setia. Seperti kesetiaan ombak datang mengecup bibir pantai dan cahaya matahari yang datang setiap pagi. Kami menyadari bahwa pasti ada kegelapan tapi serentak kami percaya bahwa kegelapan akan melahirkan matahari. Matahari yang datang setiap pagi untuk membuat gulungan ombak menjadi kemilau dan cahayanya yang menjuntai ke pantai mengajak ombak untuk selalu datang mengecup cahaya itu. Demikian bos, kata saya pada ayah dan kedua saudara saya. Wouw puitis sekali e no, kata si bungsu. Oh jelas bro. Ayah tersenyum dan bilang hebat juga gambaranmu tentang perempuan pilihan dan cintamu. Lanjutkan no, tapi ingat sekolah dulu ya. Bagaimana dengan kamu berdua? Tanya ayah pada kakak nomor tiga dan si bungsu. Yang nomor tiga bilang kami menjalani seperti air yang mengalir bos. Si bungsu menimpali kalau saya karena perempuan saya kuliahnya bimbingan konseling jadi kami menjalani dengan menggunakan prinsip healing comunication consely. Apa lagi itu no, tanya ayah. Begini arti singkatnya bos, kalau ada masalah atau problem kami menyelesaikannya dengan saling mengkomunikasikan segala permasalahan yang terjadi diantara kami. Hebat putra-putraku, ayah langsung menyambar penjelasan si bungsu. Ayah bangga pada kalian tetapi ingat muka ayah dan ibu harus tetap dijaga. Mengerti maksud ayah? Kami mengerti tapi diam. Dan ayah melanjutkan, kamu harus punya pekerjaan, baru boleh membawa perempuan-perempuan pilihan kamu ke hadapan ayah dan ibu. Satu lagi menikahlah dengan mulia. Jangan karena kecelakaan. Jadi ingat putra-putraku, tahan diri. Kami tertawa mendengar kata-kata ayah dan serempak bilang, itu konsepnya ya bos? Ini konsep dan harus dijalankan, tegas ayah mengakhiri perbincangan saat matahari pagi menyorot Hokeng yang melahirkan rasa takjub dan juga harap.

No: sapaan kesayangan untuk anak laki-laki
Begena: Bagaimana

(April 2010, didedikasikan kepada Anak-anak Hokeng yang jenuh menunggu pujaan hati)

Aku Panggil Namanya Matahari

Oleh Hengky Ola Sura
Kru Seniman Kata Uniflor


Desau angin parau pada pucuk-pucuk bakau. Sejuk dan hening. Suasana Pantai Ria lengang. Yang terdengar cuma pecahan ombak yang setia datang megecup cahaya matahari pada garis pantai. Entahlah ombak tak hanya cukup merasa bahwa pada biru warnanya yang jadi kemilau sebenarnya diciptakan oleh cahaya matahari yang menjulai, maka ombak harus mendebur dan terus mendebur merapat memeluk cahaya itu. Matahari dan ombak dua kekuatan alam itu seakan memadu kasih dalam diam-diam dahsatnya cahaya dan debur mereka. Pantai Ria masih lengang. Dua anak manusia yang terjerat dalam jaring cintapun cuma bisa saling menatap debur ombak yang entah kapan berhenti datang mengecup cahaya matahari pada bibir pantai. Desau angin masih parau dan dua anak manusia itu, yang lelaki menggenggam jemari tangan sang perempuannya. Belum ada yang bicara hanya suara-suara alam terasa memerdekakan suasana hati kedua insan pesiarah jalan cinta itu. Cinta memang tak butuh omong banyak cukup diam dan merasakan suara-suara dan aura alam di sekitarnya. Cinta punya kedahsyatannya sendiri seperti dua kekuatan alam matahari dan ombak. Lama terdiam sang lelaki akhirnya membuka percakapan. Tari, aku ingin memanggilmu dengan nama baru, nama ini kita baptis bersama dan aku berharap kamu menyetujuinya. Aku ingin memanggilmu dengan nama baru, yakni Matahari. Sang perempuan yang bernama Tari itu pun menyela, kenapa bukan kamu yang matahari? Lelaki itu menjawab aku ingin menjadi ombak. Bisa kamu katakan alasan mengapa aku yang matahari dan kamu ombak sayang? Lelaki itu lama termenung menatap ombak yang mendebur merapat ke garis pantai. Tari jujur saja sejak pertama melihatmu dalam diam-diamku aku selalu berharap memilikimu. Aku memujamu dalam diam-diamku. Sayang aku tak berani saat itu, aku takut kalah bersaing dengan banyaknya kawan-kawanku yang selalu secara lugas dan terbuka mengagumimu. Dan semuanya seolah berlomba untuk meraihmu menjadi milik mereka. Aku hanya orang biasa-biasa dengan mimpi untuk selalu memujamu dalam diam-diamku. Aku tak mau kawan-kawanku tahu kalau aku juga turut mengagumimu dan berharap memilikimu dalam omong-omong lepas kami setiap menatapmu. Tapi sekarangkan kamu telah menjadi milikku sayang. Benar Tari bahwa aku milikmu, oleh karena itu aku ingin memanggilmu Matahari. Tari mengapa kamu yang aku sapa Matahari? Jawabannya adalah karena setiap menatapmu adalah keberanian ombak menantang matahari, aku tahu dan cukup sadar, sesadar-sadarnya Tari bahwa jangan sampai terlalu menatap dan matamu itu tiba-tiba bersarang topan dan jadi semacam amukkan yang melemaskanku dan suaramu yang menawan saat kau bicara jadi gelegar yang menyumpal nafas dan ragaku. Aku takut itu sayang. Engkau perempuan luar biasa dan terlalu suci untuk dicintai lelaki seperti aku. Aku, hari ini ku baptis namaku jadi Ombak, panggil aku Ombak ya sayang, dan engkau akan ku panggil mesra Matahari dalam setiap hari-hariku. Lalu kenapa dengan ombak sayang? Tanya Tari sang perempuan yang namanya kini dipanggil Matahari. Sayang kamu tahukan aku laki-laki biasa dan dalam diam-diamku aku telah berhasil mencuri hatimu untuk ku sematkan dalam perjalanan hari hidupku. Aku hanya punya keberanian dalam tatapan yang curi-curi dan ku bahasakan dalam buku harianku tentang betapa aku memujamu. Aku bukan hanya pemenang yang telah berhasil mendekapmu terus mencampakan karena telah memenangkan pertarungan tetapi aku mau tetap menjadi seperti ombak yang punya kesetiaan mendebur untuk terus membahasakannya dalam amuk gelora rindu siang dan malam menjagamu. Apakah tidak terlalu berlebihan sayang? Apanya yang berlebihan Matahari? Aku percaya bahwa engkau perempuan dan punya cahaya yang merona terbitkan rindu padaku untuk terus mendebur dalam birunya rindu seumpama biru ombak samudera. Aku mau kamu yang jadi matahari agar setiap pagi yang datang kita ciptakan pelangi yang menjulai penuh warna. Lambang kepercayaan kita akan kesetiaan antara matahari dan ombak. Matahari yang ciptakan cahaya dan ombak yang ciptakan debur. Ketika cahaya dan debur itu menyatu terjadilah hamparan peluang sekaligus harapan untuk terus merasakan cinta yang kita ciptakan. Cinta itu cahaya. Cinta itu deburan. Cahaya dan deburan itulah aku dan engkau.
Suasana Pantai Ria masih lengang. Dua anak manusia itu kini saling menyapa matahari dan ombak. Angin yang berdesau parau pada pucuk-pucuk bakau telah turut menyatukan dua hati insan pesiarah cinta itu untuk memaknai dua kekuatan alam yang cipta cahaya dan debur. Nama mereka kini matahari dan ombak. Matahari kini dalam pelukan sayang Ombak. Lama mereka diam. Mereka menyulam lidah. Merasakan dalamnya rasa yang bergetar pada dada. Sayang janji ya untuk tidak tinggalakan matahari. Lelaki yang bernama Ombak itu semakin erat memeluk Mataharinya. Sayang tahukah engkau bahwa disetiap gelegar deru deburku aku memburu pantai untuk mengecup garis pantai hanya untuk merasakan hangatnya cahayamu. Aku merasa tidak cukup dengan selimut yang kau ciptakan padaku untuk buatku jadi kemilau. Aku mau terus mendebur ke pantai mewartakan pada dinding-dinding gua dan batu parak pantai bahwa inilah madahku berirama serempak. Inilah aku ombak, yang mau menunjukkan pada semua yang pernah mencoba memisahkan cadar rindu kita. Semua yang pernah membuat kita menangis dalam gelisah dan cercah yang senewen. Sayang sejak hari ini bila kita saling merindu perkenankanlah kita datang ke pantai ini. Iya ombakku sayang, aku suka tempat ini. Di sini kita melepas canda pada celah desau paraunya angin pada pucuk-pucuk bakau. Kita heningkan diri kita sendiri, merasakan dua kekuatan alam seumpama dua hati kita yang menyatu dalam satu kata sakti yakni cinta.
Pantai Ria semakin lengang saat senja turun. Matahari masih tersandar mesra dalam pelukkan kekasihnya Ombak. Sayang aku mau tetap di sini. Aku mau terus menatap debur dan birunya ombak samudera itu. Kita harus pulang sayang. Senja mengajak kita untuk sejenak berbenah. Kita harus pergi dari pantai ini tetapi hati matahari dan ombak tetap satu. Setia dalam cahaya dan debur. Mari kita pulang sayang. Engkau kejaiban terberi dan sejak hari ini engkau aku panggil Matahari. Malam hampir turun sayang masih ada esok buat kita datang ke pantai. Kita hanya punya cahaya dan deburan untuk terus percaya bahwa pasti ada malam-malam panjang tanpa cahaya, tanpa debur yang yang riang. Pasti ada yang terus menista cinta kita karena aku punya keberanian untuk menantang matahari. Aku memang hanya Ombak tetapi aku punya hati, aku punya deburan, aku punya kemilau tidak untuk siapa-siapa tapi untuk matahariku. Ruang di hati ini telah aku sucikan untuk cahayamu. Engkau matahari selalu berkelebat dalam ruang hatiku. Sayang sejak hari ini engkau ku panggil Matahariku. (Ende 3 Maret 2010, for Matahari, mat ultah, smoga panjang umur)

Puisi-Puisi Gody Usnaat-Catatan Redaksi Hengky Ola Sura

POHON SINYAL :buat Anna 1/  sudah dua jam aku duduk di bawa pohon sinyal menanti sinyal datang  hinggap dan berki...