Showing posts with label esay. Show all posts
Showing posts with label esay. Show all posts

Sunday, 1 May 2016

Kami Berlima, Saudari Tunggal Yang Pergi Dan Mama Yang Hari Ini Ulang Tahun

Setelah 09 Juni 2004, tinggal kami berlima. Saudari kami, nomor empat berpulang dalam matinya yang paling diam. Tak ada pesan, tak ada cerita. Ia mati dalam hening dan gigilnya subuh di lembah Hokeng. Kami berduka. Ia perempuan satu-satunya yang mengisi aroma pejantan di rumah, sebab itu dia ikut bangga karena punya saudara berlima yang laki-laki.

Tahun-tahun yang lewat setelah kematiannya yang gigil itu, saya seperti membayangkan lagi saat-saat dimana kami kembali ke rumah dan saudari satu-satunya kami yang keras kepala itu dengan bangga menyambut kami saudara-saudaranya. Terakhir kali ia mengantarkan saya untuk melanjutkan sekolah pada Jumat, 25 Juli 2003. Jelang liburan dan hendak kembali ke rumah, pagi-pagi saya mendapat telepon. Telepon itu adalah kabar berpulangnya saudari kami. Saya seperti membayangkan kembali semua tentang masa kecil kami, tentang keterampilannya membuat kue-kue, menghias rumah, menanam bunga, tentang amarahnya saat kami saudara-saudaranya tak menjaga kebersihan rumah. Atau jika kami menyapu tapi masih ada sampah yang tertinggal. Tentang keahliannya merenda kain-kain bekas untuk dijadikan taplak meja. Dan satu lagi adalah yang membuat kami semua saudaranya pasti ingat adalah kalau saudari kami ini merajuk atas satu dua permintaan yang tak terpenuhi. Ia pasti akan menangis dan tangisannya minta ampun lamanya.

Hari ini, saya terpekur di depan rak buku di kamar, ketika saya mendapati beberapa suratnya yang ia tulis untuk saya. Saya seperti mendapati seorang perempuan hidup yang kini ada di depan saya. Jarak seperti teramat dekat. Ya perempuan itu adalah surat cinta sang kakak yang ditulis penuh rindu untuk bertemu ketika liburan tiba. Saya percaya dia pasti bahagia dari dunianya yang baru sekarang ketika mendapati saya membacakan lagi surat-suratnya.

Setelah 12 tahun kematiannya, saya juga seperti terseret membayangkan jasatnya yang pasti telah jadi tanah utuh. Saya menangis. Mengenangnya adalah juga mengingat keempat saudara saya yang kini berada juga jauh dari saya. Ya kami berlima, laki-laki yang ketika menikah berbaris sendiri menuju rumah istri-istri kami tanpa saudari satu-satunya kami. Lamat-lamat dari rumah tetangga ada lagu yang diputar “binek ditake” buat air mata seperti tak terbendung.

Ya setelah 12 tahun kepergiannya, di rumah kini mama dan saudara yang nomor tiga merayakan ulang tahun kelahiran. Usia mama 65 tahun. Pagi tadi usai ekaristi saya menelpon mama mengucapkan selamat ulang tahun. Mama senang dan bilang mama sehat. Ia senantiasa merindukan kami semua anak-anaknya. Kami berlima putra-putranya dan seorang putri yang telah lebih dahulu pulang menghadap Tuhan sang empunya hidup....

Mama dari surga, saya yakin putri kesayangan mama mendoakan mama juga kami berlima, putra-putra kebanggan mama sama kangennya pada mama.

Salam ke Hokeng, semoga panjang umur mama....

Saturday, 2 April 2016

Wilda dan Tuhannya




(Apresiasi atas Buku Kumpulan Puisi Mengalirlah Sunyi)

Oleh Hengky Ola Sura

Peminat Sastra


Penulisan puisi, atau dengan meminjam kias sifat ketuhanan, menurut ilmu agama, pen-cipta-an sebuah puisi /sajak dilakukan seseorang dalam iklim budaya, iklim sastra. Ia, si penyair atau penyuka puisi bukan membuat sesuatu dari yang tiada. Sajak / puisi adalah jadi-jadian. Lewat kemampuan menggunakan segala faktor budaya yang dicerap, dimiliki dan dibina oleh si penyair atau penyuka puisi. Ide (sajak/puisi) itu mirip konsep Plato sebagai rumus filsafat, berupa bentuk dasar, dapatlah dicatat bahwa budaya manusia padat dengan ide-ide yang dikembangkan, diwariskan, dicerap, ditimang-timang dalam hati atau benak. Hasil akumulasi lewat pewarisan (pendidikan), saling mempengaruhi, proses saling membenihi antarbudaya umat manusia dan antar manusia sepanjang sejarah. Sajak memang dikembangkan dari sesuatu ide, dalam pengertian filsafat secara demikian, dikembangkan oleh si penyair atau penyuka puisi dengan bahasanya sendiri, dituangkannya dalam bahasanya sendiri.
Kita publik NTT patut berbangga dan memberi apresiasi atas terbitnya kumpulan puisi Mengalirlah Sunyi, Penerbit Nusa Indah 2013, karya Wilda Wisang, seorang staf pengajar dari Universitas Flores dan juga seorang biarawati dari serikat CIJ. Sebagai pembaca puisi yang menyukai puisi dan menikmati puisi, saya mendalami puisi-puisi dalam buku ini lebih sebagai pergumulan Wilda dengan Tuhannya. Menjadi pertanyaan apakah Wilda mempunyai Tuhannya sendiri? Tulisan ini tidak bermaksud membahas tentang paham ketuhanan. Tulisan ini lebih sebagai penafsiran atas refleksi yang terjalin dari kata hati, kata pikiran menjadi kata tertulis tentang adanya Sang Tuhan mewarnai seluruh proses pergumulan hidup seorang Wilda. Lewat seluruh pergumulan hidupnya memaknai sunyi sebagai bagian integral dari diri dan hidupnya yang mengalir. Mengalirlah Sunyi sungguh-sungguh sebuah pilihan kata  yang tragik dramatis dari kacamata pembaca biasa tetapi ketika merefleksinya lebih dalam kata mengalirlah sunyi itu sungguh sebuah kebangkitan dari kegelisahan yang meregang. Dalam hal ini saya sependapat dengan Leo Kleden  yang memberikan pengantar untuk buku ini. Kesunyian punya dua sisi. Yang pertama ialah suasana kosong, dimana orang merasa sendirian, terpisah dari orang-orang tercinta dan dari lingkungan yang diakrabinya. Inilah yang disebut kesepian (bahasa Inggris: Loneliness). Aspek kedua ialah sunyi yang penuh, semacam keheningan kudus, ketika orang merasakan keutuhan dirinya dalam kesatuan dengan semesta (kosmos), dengan orang-orang tercinta, dan dengan Yang Maha Ada. Itulah makna yang tersirat dalam ungkapan , O Beata Solitudo. Kata Latin solitudo kemudian diambil alih oleh kata bahasa Inggris menjadi solitude. Kedua sisi kesunyian itu adalah dua dimensi dari pengalaman rohani yang satu dan sama ketika orang menggumuli sunyi, (Mengalirlah Sunyi, hal 6). Puisi yang tepat untuk menggambarkan pergumulan dari dua aspek sunyi di atas termaktub dalam puisi berjudul Lirih Sembayangku.
aku telah kembali
dari perjalanan meniti malam
rongga-rongga kesunyian
menakar tawakalku
yang lelap di sayap sepi
ku naikan pasrah bergita janji
karena hasratku telah ditawan gelap
bersua juakah lirih sembayangku
diredup cahaya berujung keluh
dengan rindumu nan perkasa
aku di sini menggenggam niat
menunggu gema suaramu
bawa aku ke sunyimu abadi
Puisi di atas menyodorkan kepada pembaca bagaimana sebuah teks berbicara dan bagaimana seorang pembaca membaca. Media utama penyair untuk melukiskan gagasannya adalah bahasa. Agar memikat pembacanya, penyair harus memiliki kemampuan dalam mengolah bahasa. Pengolahan bahasa dalam karya puisi bersifat pribadi. Artinya, setiap penyair mempunyai kekhasan dalam mengolah bahasa, gaya bahasa itu yang menghidupkan kalimat dan memberi gerak pada kalimat. Gaya bahasa itu untuk menimbulkan rekasi tertentu, untuk menimbulkan tanggapan pikiran kepada pembaca.
            Menurut Gorys Keraf (1991), bahwa gaya bahasa (style) dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Pendapat lain mengatakan bahwa gaya bahasa adalah susunan perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati penulis yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca (Pradopo, 1987: 93).
 
Teks puisi di atas akhirnya perlu dipahami lewat proses interpretasi yang bersumber pada ”reception of a text. Induk teori interpretasi adalah hermeneutik. Namun hermeneutik mengandung berbagai variasi. Konsep dasar metodologisnya menyatakan bahwa teks memiliki dua tataran, yakni tataran permukaan dan isi. Pada tataran permukaan kita berurusan dengan tata bahasa dan semantik dalam teks tersebut, sedangkan pada tataran isi berurusan dengan interpretasi teks.
Pada bait pertama baris pertama dan kedua dari puisi Lirih Sembayangku, Wilda sebenarnya melukiskan secara ekspresif bahwa puisi tersebut sebenarnya adalah sebuah doa pagi, doa membuka hari.
aku telah kembali
dari perjalanan meniti malam
 Pada baris ketiga, keempat dan kelima 
rongga-rongga kesunyian
menakar tawakalku
yang lelap di sayap sepi

Wilda membahasakan secara implsit bahwa selama dalam tidurnya ia dinaungi kesepian yang boleh dikatakan sebagai bagian dari ukuran sembah baktinya sebagai seorang religius. Wilda secara amat mendalam membahasakannya, /rongga-rongga kesunyian/ menakar tawakalku/ yang lelap di sayap sepi/. Diksi seperti ini boleh dikatakan sebagai bagian dari rasa teralienasi terhadap malam. Malam identik dengan gelap dan kegelapan itu menghantarnya pada sebuah rasa sunyi, rasa sepi. Rasa sunyi, rasa sepi itu kemudian dibahasakan sebagai tawanan kegelapan, dan doa pagi itu berubah menjadi sebuah ungkapan kesedihan, pada bait kedua baris satu, dua, tiga dan empat,
ku naikan pasrah bergita janji
karena hasratku telah ditawan gelap
bersua juakah lirih sembayangku
diredup cahaya berujung keluh

Judul Lirih Sembayangku menjadi tepat karena sang penulis puisi ini mengungkapkan kepada sang Tuhannya bahwa niatnya tertawan gelap. Doa paginya menjadi sebuah kesusahan, seperti tanpa sinar, diksi /bersua juakah lirih sembayangku/, /diredup cahaya berujung keluh/, saya kira membahasakan suasana kesusahan itu.
Selanjutnya pada bait ketiga baris satu, dua dan tiga
aku di sini menggenggam niat
menunggu gema suaramu
bawa aku ke sunyimu abadi

Wilda secara amat bersahaja melukiskan sebuah ketulusan untuk berada pada sebuah kesunyian yang abadi. Bait ketiga sebenarnya dapat dipadankan dengan puisinya Amir Hamzah, Nyanyi Sunyi, yang juga sempat disentil Leo Kleden dalam pengantarnya,
Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus

Diksi /bahwa aku ke sunyimu abadi/ adalah sebuah luahan kontemplatif untuk merasakan kedamaian paling hakiki dari sebuah kesunyian.
Pada puisi Kaulah Kemerlap, Wilda mendeskripsikan kemerlap sebagai Tuhan. Menurut saya, puisi ini berangkat dari pengalaman perjumpaan yang intens dengan Tuhannya yang memiliki cahaya. Kata kemerlap mendapat pemenuhannya karena kemerlap adalah semacam katarsis yang menghantarkannya pada kelembutan kasih Tuhannya yang berseri-seri dalam selusin janji.
terpekur aku dibias wajah rembulan
lembut sinarnya melukis kehendak
berseri-seri dalam selusin janji
telah pula ku baca rindumu
pada sebaris titah suci
            segera kubenam sujud di serambi harapan
            bersama selapik rindu dikerlip terangmu
hantarlah impianku ke batas hasrat
kaulah kemerlap digulita rinduku membisu

Puisi Kaulah Kemerlap sesungguhnya menggunakan gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat. Wilda sebagai penulis puisi merefleksikan Tuhannya sebagai bagian integral yang memberikan kemerlap. Kemerlap itulah yang ditunjukan dalam struktur kalimat yang mencapai klimaksnya. Gaya bahasa itu diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik. Ia mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan sebelumnya.
/terpekur aku dibias wajah rembulan/, /lembut sinarnya melukis kehendak/
/berseri-seri dalam selusin janji/
/telah pula ku baca rindumu/
/pada sebaris titah suci/
            /segera kubenam sujud di serambi harapan/
            /bersama selapik rindu dikerlip terangmu/
/hantarlah impianku ke batas hasrat/
/kaulah kemerlap digulita rinduku membisu/

Akhirnya keseluruhan puisi yang berjumlah 30 dalam buku yang diberi judul Mengalirlah Sunyi ini, saya kira merupakan catatan pengembara dari seorang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhannya. Ada saat-saat dimana ia mengalami konsolasi dan ada saat-saat dimana ia mengalami desolasi. Semuanya mengalir dalam sunyi. Seperti sunyi yang kadang-kadang luka, sunyi juga kadang-kadang lampus. Ke-tiga puluh puisi tersebut antara lain, Kusunting Rembulan, Jejak, Apakah Kau Sanggup, Lidah-Lidah Fajar, Mari Kita Merunduk, Langit di Batas Langit, Menanam Cinta, Di BerandaMu, Lirih Sembayangku, Kaulah Kemerlap, Kenangan Yang Tertinggal, Senja Sebuah Natal, Bintang Terbit di Puncak Malam, Mengulang Janji, Mengalirlah Sunyi, Butir Doa yang Patah, Sepanjang Jalan Pulang, Tuhan, Aku Rindu, Tangan-Tangan Terentang, Ah Tuhan, Ketika Kau Tersenyum, Kembalilah, Madah, Tentang Jumpa Kita, Mencari Daulat, Langkah Kita, Tahukah Engkau, Hanya Kita, Adalah Kita dan Wajah Siapakah adalah deretan kata yang hidup, yang menyatakan bahwa sunyi yang mengalir adalah juga bagian anugerah terindah dari Tuhannya.




Imajinasi Penyair dan Keadaban Budaya




Imajinasi Penyair dan Keadaban Budaya
(Refleksi atas Kumpulan Puisi Samudera Cinta Ikan Paus-nya Bara Pattyradja)
Oleh Hengky Ola Sura
Peminat Sastra

Sastra dan akar tradisi sesungguhnya adalah dua entitas yang tali-temali. Membaca sastra khususnya sastra serius dengan keintensan pengarang yang tidak sekedar menulis tentang persona tetapi lebih dari itu tentang kebudayaan sebuah kelompok atau etnis sosial, pembaca sesungguhnya diajak untuk menyelami akar tradisi yang seharusnya tetap terpatri dalam nubari, dihayati dan diamalkan. Sastra (baca, puisi) tidak sebatas deret kata bermakna tetapi lebih dari itu pengungkapan kembali realitas yang pernah ada dan  menunjukan keberadaban kelompok atau etnis sosial tetapi telah hilang atau bahkan telah ditinggalkan. Tentang hal ini nampak jelas dalam beberapa puisi Bara Pattyradja dalam kumpulan puisi terbarunya Samudera Cinta Ikan Paus (2013). 
Bara Pattyradja saya kira adalah salah satu penyair Indonesia yang bobot puisi-puisinya melampaui penyair lainnya. Lahir dari sebuah desa pesisir, Lamahala, Flores Timur, NTT membuat semua penikmat, pembaca sastra khususnya dari NTT untuk turut berbangga dengan penyair yang satu ini. Bara mungkin mewakili pendapat sementara saya untuk turut mengatakan bahwa NTT itu sesungguhnya rahim para penyair. Buku berisi 38 puisi ini titik pangkal temanya adalah cinta. Membaca puisi-puisi Bara adalah bagian dari usaha untuk menggali hal-hal tersembunyi di balik kenyataan sehari-hari. Puisi adalah usaha menemukan rahasia demi rahasia di balik pengalaman sehari-hari. Puisi mencoba menembus batas-batas penglihatan umum. Sebab, penyair melalui puisinya percaya bahwa di balik semua kenyataan selalu ada hal-hal yang tak terbayangkan, tak terduga, tak terpikirkan. Inilah yang disebut dengan imajinasi.

 Puisi Adonara, Sebuah Prolog, adalah gambaran kembali ke fitrah bahwa tanah Adonara itu bukan identik dengan perang tanding dan kekerasan tetapi tanah peradaban orang-orang yang giat bekerja,

Bukan tangan kebal kelewang
Yang menyentuh hatiku
Tapi relung mata ina
Yang tabah mengayuh pelu
Di los-los pasar
Tanpa kelu ia terus berjalan
Menyangga hidup yang kuyup
Sambil mengingat wajah ama, wajahmu
Yang pecah
Di pucuk-pucuk bandar
Keberanian itu
Seperti wanita
Di ranum dadanya
Setiap laki-laki
Mengibas sayap-sayap takdir

Bagi yang pernah ke Larantuka atau Waiwerang pemandangan yang dilukis Bara dalam puisi di atas sesungguhnya kisah yang terus terjadi dalam geliat orang-orang di Kota Larantuka atau pun Waiwerang. Sosok perempuan yang dibahasakan dengan ina  bukan hanya anggun tapi juga perempuan pekerja yang ikut menopang ekonomi membantu ama atau lelaki yang menjadi buru di pelabuhan. Kepaduan yang paling apik dan menjadikan pembaca mengaharu biru adalah deret kata, //keberanian itu/ seperti wanita/ di ranum dadanya/ setiap laki-laki/ mengibas sayap-sayap takdir//. Diksi Bara dalam deret kata ini saya kira telah menghipnotis pembaca untuk menyadari bahwa puisi sebagai sebuah karya seni adalah pengungkapan bersinarnya ide secara indrawi. Dan Bara menangkap realitas keseharian yang dianggap biasa itu menjadi sebuah refleksi yang sarat nilai-nilai hidup. Dalam puisi Samudera Cinta Ikan Paus, yang dijadikan judul untuk kumpulan puisi ini Bara menulis,

Cintaku kepadamu, perempuanku
Adalah samudera
Cinta ikan paus

Dari benua-benua jauh
Dari kutub yang dingin
Seorang diri
Kulalui siksa laut dalam

Kini aku terjerat sepenuhnya
Dibiru tasikmu
Yang tiada beriak

Songsong aku
Dengan peledan-mu
Dan jangan sisakan
Sedikit pun keraguan

Biarkan hatiku menggelepar
Di runcing tempulingmu
Biarkan sunyi siripku merapuh
Ke batas pasir

Ketika sinar bulan mulai samar di perbukitan
Ketika angin mendesau sepi, dekap aku
Bagai martir di ujung tiang

Puisi ini sendiri dapat ditafsir sebagai sebuah luahan ungkapan cinta yang gigil oleh perjuangan tetapi serentak juga secara eksplisit mengangkat tradisi untuk menjadi lebih dikenal. Bara tentu tidak menjadikan tradisi penangkapan ikan paus sebagai sebuah propaganda tetapi keluhuran dari tradisi itu sendiri sebagai bagian dari kebudayaan orang-orang Lamalera. Dalam pengantar buku ini Bara sendiri menulis bahwa ikan paus bukan hanya sekedar spesies purba yang tangguh di laut dalam, tapi juga sosok spiritual dalam epos nabi Yunus. Di rahim seekor ikan paus itulah nabi Yunus mengambil jedah untuk memandang kehidupan tidak melalui kacamata darat, tapi kacamata maritim. Kebermaknaan samudera membuat orang insaf, mengalami pencerahan atas spirit mencintai. Puisi ini adalah semacam gambaran keintiman penyair dengan realitasnya membahasakan cinta dalam suasana seperti sedang tertikam tempuling yang runcing. 
Dua puisi yang hemat saya sangat menarik adalah Gunung Batu yang Bersila dan Surat dari Lamahala. Saya kira Bara memiliki pengalaman perjumpaan yang memikat dan menginspirir sehingga lahirlah dua puisi yang secara khusus dipersembahkan buat Paul Budi Kleden dan Yoseph Lagadoni Herin. Dalam puisi Gunung Batu yang Bersila, Bara mendeskripsikan dengan bahasa yang harus ditafsir lebih menukik apa maksud terdalamnya bagi pembaca. Salah satu penggalan dari puisi itu antara lain;
Di kaki langit Larantuka
Engkaulah gunung batu
Yang bersila
Hening bagai kaku pohonan
paul, paul
kau masih saja sesunyi air sebisu tanah
saat mata nasib yang jalang
memberiku isyarat penuh gemuruh

 Puisi di atas dapat diinterpretasi sebagai laku spiritual yang tampak dari tokoh yang ditulis penyair. Membaca keseluruhan puisi Gunung Batu yang Bersila, pembaca diajak masuk dalam refleksi penyair mempertanyakan sesuatu yang hilang dari tanah tempat hidup. Hal ini bisa dibaca dalam bait lain dari puisi tersebut,

Apa yang salah?
Hingga orang-orang kampung butuh kejahatan
Untuk menjagal diri sendiri
Tak kutanam dendam di kawah darahku
Meski mata pisau goreskan luka
Silsislah dagingku

Diksi penggambaran tokoh sebagai gunung batu yang bersila memberi uraian impresif tetapi juga serentak pertanyaan bahwa ada sesuatu (baca, keadaban) yang hilang  dari orang-orang di tanah kelahiran sosok gunung batu yang bersilah itu. Kebermaknaan gunung batu yang bersila memberi arti bagi penyair untuk taksim dan mengarahkan orang lewat kontemplasi diri. Tentang ini saya kira luahan yang telak ada pada deret kata, //tak kutanam dendam di kawah darahku/ meski mata pisau goreskan luka/ silsislah dagingku. Puisi dalam bahasa yang seperti ini saya pikir jadi pembelajaran untuk mengoreksi diri dalam refleksi-refleksi fundamental. Sedangkan puisi Surat dari Lamahala adalah letupan harapan serentak rasa suka duka berbagi. Bait pertama dari puisi tersebut antara lain,
Dari lamahala
Hidup tak cukup hanya dengan satu badai
Laut makin ganas
Makin mengombak rindu dendam di hati
Beribu mata bajak menguntitku
Nanar seperti tiang layar perahu

Apakah puisi ini adalah bagian lain dari keluh dan sesal? Bisa saja demikian. Bara sesungguhnya memilih mempersembahkan puisi ini untuk Yoseph Lagadoni Herin, yang hemat saya adalah salah satu penikmat sastra tetapi juga pemerhati sastra. Sebagai orang nomor satu di kabupaten Flores Timur, saya kira puisi ini adalah lecutan perhatian penyair untuk pemimpinnya. Bara melukiskan secara dramatis suasana yang terjadi dengan metafora yang apik. Puisi ini sesungguhnya sebuah kritik yang berkualitas untuk menunjukan perhatian seorang pemimpin bagi rakyat di tanah peperangan/konflik.
Bara Pattyradja sesungguhnya adalah penyair yang memilih pulang kampung, tanah kelahiran untuk mempertajam imajinasinya sekaligus menulis tidak hanya untuk personanya tetapi mengangkat, mengingatkan, dan dengan mata visualnya yang tajam mengajak kita semua (pembaca) bahwa keadaban budaya itu sesuatu yang mematangkan dan menjadikan kita bijaksana. Lebih dari itu membuat kita menjadi lebih beradab.


Puisi-Puisi Gody Usnaat-Catatan Redaksi Hengky Ola Sura

POHON SINYAL :buat Anna 1/  sudah dua jam aku duduk di bawa pohon sinyal menanti sinyal datang  hinggap dan berki...