Setelah 09 Juni 2004, tinggal kami berlima. Saudari kami, nomor empat berpulang dalam matinya yang paling diam. Tak ada pesan, tak ada cerita. Ia mati dalam hening dan gigilnya subuh di lembah Hokeng. Kami berduka. Ia perempuan satu-satunya yang mengisi aroma pejantan di rumah, sebab itu dia ikut bangga karena punya saudara berlima yang laki-laki.
Tahun-tahun yang lewat setelah kematiannya yang gigil itu, saya seperti membayangkan lagi saat-saat dimana kami kembali ke rumah dan saudari satu-satunya kami yang keras kepala itu dengan bangga menyambut kami saudara-saudaranya. Terakhir kali ia mengantarkan saya untuk melanjutkan sekolah pada Jumat, 25 Juli 2003. Jelang liburan dan hendak kembali ke rumah, pagi-pagi saya mendapat telepon. Telepon itu adalah kabar berpulangnya saudari kami. Saya seperti membayangkan kembali semua tentang masa kecil kami, tentang keterampilannya membuat kue-kue, menghias rumah, menanam bunga, tentang amarahnya saat kami saudara-saudaranya tak menjaga kebersihan rumah. Atau jika kami menyapu tapi masih ada sampah yang tertinggal. Tentang keahliannya merenda kain-kain bekas untuk dijadikan taplak meja. Dan satu lagi adalah yang membuat kami semua saudaranya pasti ingat adalah kalau saudari kami ini merajuk atas satu dua permintaan yang tak terpenuhi. Ia pasti akan menangis dan tangisannya minta ampun lamanya.
Hari ini, saya terpekur di depan rak buku di kamar, ketika saya mendapati beberapa suratnya yang ia tulis untuk saya. Saya seperti mendapati seorang perempuan hidup yang kini ada di depan saya. Jarak seperti teramat dekat. Ya perempuan itu adalah surat cinta sang kakak yang ditulis penuh rindu untuk bertemu ketika liburan tiba. Saya percaya dia pasti bahagia dari dunianya yang baru sekarang ketika mendapati saya membacakan lagi surat-suratnya.
Setelah 12 tahun kematiannya, saya juga seperti terseret membayangkan jasatnya yang pasti telah jadi tanah utuh. Saya menangis. Mengenangnya adalah juga mengingat keempat saudara saya yang kini berada juga jauh dari saya. Ya kami berlima, laki-laki yang ketika menikah berbaris sendiri menuju rumah istri-istri kami tanpa saudari satu-satunya kami. Lamat-lamat dari rumah tetangga ada lagu yang diputar “binek ditake” buat air mata seperti tak terbendung.
Ya setelah 12 tahun kepergiannya, di rumah kini mama dan saudara yang nomor tiga merayakan ulang tahun kelahiran. Usia mama 65 tahun. Pagi tadi usai ekaristi saya menelpon mama mengucapkan selamat ulang tahun. Mama senang dan bilang mama sehat. Ia senantiasa merindukan kami semua anak-anaknya. Kami berlima putra-putranya dan seorang putri yang telah lebih dahulu pulang menghadap Tuhan sang empunya hidup....
Mama dari surga, saya yakin putri kesayangan mama mendoakan mama juga kami berlima, putra-putra kebanggan mama sama kangennya pada mama.
Salam ke Hokeng, semoga panjang umur mama....
Showing posts with label esay. Show all posts
Showing posts with label esay. Show all posts
Sunday, 1 May 2016
Saturday, 2 April 2016
Wilda dan Tuhannya
(Apresiasi atas Buku Kumpulan Puisi Mengalirlah Sunyi)
Oleh Hengky Ola Sura
Peminat Sastra
Penulisan puisi, atau dengan meminjam kias
sifat ketuhanan, menurut ilmu agama, pen-cipta-an
sebuah puisi /sajak dilakukan seseorang dalam iklim budaya, iklim sastra. Ia,
si penyair atau penyuka puisi bukan membuat sesuatu dari yang tiada. Sajak /
puisi adalah jadi-jadian. Lewat kemampuan menggunakan segala faktor budaya yang
dicerap, dimiliki dan dibina oleh si penyair atau penyuka puisi. Ide
(sajak/puisi) itu mirip konsep Plato sebagai rumus filsafat, berupa bentuk
dasar, dapatlah dicatat bahwa budaya manusia padat dengan ide-ide yang
dikembangkan, diwariskan, dicerap, ditimang-timang dalam hati atau benak. Hasil
akumulasi lewat pewarisan (pendidikan), saling mempengaruhi, proses saling
membenihi antarbudaya umat manusia dan antar manusia sepanjang sejarah. Sajak
memang dikembangkan dari sesuatu ide, dalam pengertian filsafat secara
demikian, dikembangkan oleh si penyair atau penyuka puisi dengan bahasanya
sendiri, dituangkannya dalam bahasanya sendiri.
Kita publik NTT patut berbangga dan
memberi apresiasi atas terbitnya kumpulan puisi Mengalirlah Sunyi, Penerbit Nusa Indah 2013, karya Wilda Wisang,
seorang staf pengajar dari Universitas Flores dan juga seorang biarawati dari
serikat CIJ. Sebagai pembaca puisi yang menyukai puisi dan menikmati puisi,
saya mendalami puisi-puisi dalam buku ini lebih sebagai pergumulan Wilda dengan
Tuhannya. Menjadi pertanyaan apakah Wilda mempunyai Tuhannya sendiri? Tulisan
ini tidak bermaksud membahas tentang paham ketuhanan. Tulisan ini lebih sebagai
penafsiran atas refleksi yang terjalin dari kata hati, kata pikiran menjadi
kata tertulis tentang adanya Sang Tuhan mewarnai seluruh proses pergumulan
hidup seorang Wilda. Lewat seluruh pergumulan hidupnya memaknai sunyi sebagai
bagian integral dari diri dan hidupnya yang mengalir. Mengalirlah Sunyi sungguh-sungguh sebuah pilihan kata yang tragik dramatis dari kacamata pembaca
biasa tetapi ketika merefleksinya lebih dalam kata mengalirlah sunyi itu
sungguh sebuah kebangkitan dari kegelisahan yang meregang. Dalam hal ini saya
sependapat dengan Leo Kleden yang
memberikan pengantar untuk buku ini. Kesunyian punya dua sisi. Yang pertama ialah suasana kosong, dimana
orang merasa sendirian, terpisah dari orang-orang tercinta dan dari lingkungan
yang diakrabinya. Inilah yang disebut kesepian (bahasa Inggris: Loneliness). Aspek kedua ialah sunyi yang penuh, semacam keheningan kudus, ketika
orang merasakan keutuhan dirinya dalam kesatuan dengan semesta (kosmos), dengan
orang-orang tercinta, dan dengan Yang Maha Ada. Itulah makna yang tersirat
dalam ungkapan , O Beata Solitudo.
Kata Latin solitudo kemudian diambil
alih oleh kata bahasa Inggris menjadi solitude.
Kedua sisi kesunyian itu adalah dua dimensi dari pengalaman rohani yang satu
dan sama ketika orang menggumuli sunyi, (Mengalirlah
Sunyi, hal 6). Puisi yang tepat untuk menggambarkan pergumulan dari dua
aspek sunyi di atas termaktub dalam puisi berjudul Lirih Sembayangku.
aku telah kembali
dari perjalanan meniti malam
rongga-rongga kesunyian
menakar tawakalku
yang lelap di sayap sepi
ku naikan pasrah bergita janji
karena hasratku telah ditawan gelap
bersua juakah lirih sembayangku
diredup cahaya berujung keluh
dengan rindumu nan perkasa
aku di sini menggenggam niat
menunggu gema suaramu
bawa aku ke sunyimu abadi
Puisi di atas menyodorkan kepada pembaca
bagaimana sebuah teks berbicara dan bagaimana seorang pembaca membaca. Media utama penyair untuk melukiskan gagasannya
adalah bahasa. Agar memikat pembacanya, penyair harus memiliki kemampuan dalam
mengolah bahasa. Pengolahan bahasa dalam karya puisi bersifat pribadi. Artinya,
setiap penyair mempunyai kekhasan dalam mengolah bahasa, gaya bahasa itu yang
menghidupkan kalimat dan memberi gerak pada kalimat. Gaya bahasa itu untuk
menimbulkan rekasi tertentu, untuk menimbulkan tanggapan pikiran kepada
pembaca.
Menurut Gorys Keraf (1991), bahwa gaya bahasa (style) dapat dibatasi sebagai cara
mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan
kepribadian penulis. Pendapat lain mengatakan bahwa gaya bahasa adalah susunan
perkataan yang terjadi karena perasaan yang timbul atau hidup dalam hati
penulis yang menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca (Pradopo,
1987: 93).
Teks puisi di atas akhirnya perlu dipahami lewat proses interpretasi
yang bersumber pada ”reception of a text.
Induk teori interpretasi adalah hermeneutik. Namun hermeneutik mengandung
berbagai variasi. Konsep dasar metodologisnya menyatakan bahwa teks memiliki
dua tataran, yakni tataran permukaan dan isi. Pada tataran permukaan kita
berurusan dengan tata bahasa dan semantik dalam teks tersebut, sedangkan pada
tataran isi berurusan dengan interpretasi teks.
Pada bait pertama baris pertama dan kedua dari puisi Lirih Sembayangku, Wilda sebenarnya
melukiskan secara ekspresif bahwa puisi tersebut sebenarnya adalah sebuah doa
pagi, doa membuka hari.
aku telah kembali
dari perjalanan meniti malam
Pada
baris ketiga, keempat dan kelima
rongga-rongga kesunyian
menakar tawakalku
yang lelap di sayap sepi
Wilda membahasakan secara implsit bahwa selama dalam tidurnya ia dinaungi kesepian yang boleh dikatakan sebagai bagian dari ukuran sembah baktinya sebagai seorang religius. Wilda secara amat mendalam membahasakannya, /rongga-rongga kesunyian/ menakar tawakalku/ yang lelap di sayap sepi/. Diksi seperti ini boleh dikatakan sebagai bagian dari rasa teralienasi terhadap malam. Malam identik dengan gelap dan kegelapan itu menghantarnya pada sebuah rasa sunyi, rasa sepi. Rasa sunyi, rasa sepi itu kemudian dibahasakan sebagai tawanan kegelapan, dan doa pagi itu berubah menjadi sebuah ungkapan kesedihan, pada bait kedua baris satu, dua, tiga dan empat,
ku naikan pasrah bergita janji
karena hasratku telah ditawan gelap
bersua juakah lirih sembayangku
diredup cahaya berujung keluh
Judul Lirih
Sembayangku menjadi tepat karena sang penulis puisi ini mengungkapkan
kepada sang Tuhannya bahwa niatnya tertawan gelap. Doa paginya menjadi sebuah
kesusahan, seperti tanpa sinar, diksi /bersua
juakah lirih sembayangku/, /diredup cahaya berujung keluh/, saya kira
membahasakan suasana kesusahan itu.
Selanjutnya pada bait ketiga baris satu,
dua dan tiga
aku di sini menggenggam niat
menunggu gema suaramu
bawa aku ke sunyimu abadi
Wilda secara amat bersahaja melukiskan sebuah ketulusan untuk berada pada sebuah kesunyian yang abadi. Bait ketiga sebenarnya dapat dipadankan dengan puisinya Amir Hamzah, Nyanyi Sunyi, yang juga sempat disentil Leo Kleden dalam pengantarnya,
Sunyi itu duka
Sunyi itu kudus
Sunyi itu lupa
Sunyi itu lampus
Diksi /bahwa aku ke sunyimu abadi/ adalah sebuah luahan kontemplatif untuk merasakan kedamaian paling hakiki dari sebuah kesunyian.
Pada puisi Kaulah Kemerlap, Wilda mendeskripsikan kemerlap sebagai Tuhan.
Menurut saya, puisi ini berangkat dari pengalaman perjumpaan yang intens dengan
Tuhannya yang memiliki cahaya. Kata kemerlap mendapat pemenuhannya karena
kemerlap adalah semacam katarsis yang menghantarkannya pada kelembutan kasih
Tuhannya yang berseri-seri dalam selusin janji.
terpekur aku dibias wajah rembulan
lembut sinarnya melukis kehendak
berseri-seri dalam selusin janji
telah pula ku baca rindumu
pada sebaris titah suci
segera kubenam sujud di
serambi harapan
bersama selapik rindu
dikerlip terangmu
hantarlah impianku ke batas hasrat
kaulah kemerlap digulita rinduku membisu
Puisi Kaulah
Kemerlap sesungguhnya menggunakan gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat.
Wilda sebagai penulis puisi merefleksikan Tuhannya sebagai bagian integral yang
memberikan kemerlap. Kemerlap itulah yang ditunjukan dalam struktur kalimat
yang mencapai klimaksnya. Gaya bahasa itu diturunkan dari kalimat yang bersifat
periodik. Ia mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin
meningkat kepentingannya dari gagasan sebelumnya.
/terpekur aku dibias wajah rembulan/, /lembut sinarnya melukis kehendak/
/berseri-seri dalam selusin janji/
/telah pula ku baca rindumu/
/pada sebaris titah suci/
/segera kubenam sujud
di serambi harapan/
/bersama selapik rindu
dikerlip terangmu/
/hantarlah impianku ke batas hasrat/
/kaulah kemerlap digulita rinduku membisu/
Akhirnya keseluruhan puisi yang berjumlah 30 dalam buku yang diberi judul Mengalirlah Sunyi ini, saya kira merupakan catatan pengembara dari seorang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhannya. Ada saat-saat dimana ia mengalami konsolasi dan ada saat-saat dimana ia mengalami desolasi. Semuanya mengalir dalam sunyi. Seperti sunyi yang kadang-kadang luka, sunyi juga kadang-kadang lampus. Ke-tiga puluh puisi tersebut antara lain, Kusunting Rembulan, Jejak, Apakah Kau Sanggup, Lidah-Lidah Fajar, Mari Kita Merunduk, Langit di Batas Langit, Menanam Cinta, Di BerandaMu, Lirih Sembayangku, Kaulah Kemerlap, Kenangan Yang Tertinggal, Senja Sebuah Natal, Bintang Terbit di Puncak Malam, Mengulang Janji, Mengalirlah Sunyi, Butir Doa yang Patah, Sepanjang Jalan Pulang, Tuhan, Aku Rindu, Tangan-Tangan Terentang, Ah Tuhan, Ketika Kau Tersenyum, Kembalilah, Madah, Tentang Jumpa Kita, Mencari Daulat, Langkah Kita, Tahukah Engkau, Hanya Kita, Adalah Kita dan Wajah Siapakah adalah deretan kata yang hidup, yang menyatakan bahwa sunyi yang mengalir adalah juga bagian anugerah terindah dari Tuhannya.
Imajinasi Penyair dan Keadaban Budaya
Imajinasi Penyair dan Keadaban Budaya
(Refleksi atas Kumpulan Puisi Samudera Cinta Ikan Paus-nya Bara Pattyradja)
Oleh Hengky Ola Sura
Peminat Sastra
Sastra
dan akar tradisi sesungguhnya adalah dua entitas yang tali-temali. Membaca
sastra khususnya sastra serius dengan keintensan pengarang yang tidak sekedar
menulis tentang persona tetapi lebih dari itu tentang kebudayaan sebuah
kelompok atau etnis sosial, pembaca sesungguhnya diajak untuk menyelami akar
tradisi yang seharusnya tetap terpatri dalam nubari, dihayati dan diamalkan. Sastra
(baca, puisi) tidak sebatas deret kata bermakna tetapi lebih dari itu
pengungkapan kembali realitas yang pernah ada dan menunjukan keberadaban kelompok atau etnis
sosial tetapi telah hilang atau bahkan telah ditinggalkan. Tentang hal ini
nampak jelas dalam beberapa puisi Bara Pattyradja dalam kumpulan puisi
terbarunya Samudera Cinta Ikan Paus
(2013).
Bara
Pattyradja saya kira adalah salah satu penyair Indonesia yang bobot
puisi-puisinya melampaui penyair lainnya. Lahir dari sebuah desa pesisir,
Lamahala, Flores Timur, NTT membuat semua penikmat, pembaca sastra khususnya
dari NTT untuk turut berbangga dengan penyair yang satu ini. Bara mungkin
mewakili pendapat sementara saya untuk turut mengatakan bahwa NTT itu
sesungguhnya rahim para penyair. Buku berisi 38 puisi ini titik pangkal temanya
adalah cinta. Membaca puisi-puisi Bara adalah bagian dari usaha untuk menggali
hal-hal tersembunyi di balik kenyataan sehari-hari. Puisi adalah usaha
menemukan rahasia demi rahasia di balik pengalaman sehari-hari. Puisi mencoba
menembus batas-batas penglihatan umum. Sebab, penyair melalui puisinya percaya
bahwa di balik semua kenyataan selalu ada hal-hal yang tak terbayangkan, tak
terduga, tak terpikirkan. Inilah yang disebut dengan imajinasi.
Puisi
Adonara, Sebuah Prolog, adalah
gambaran kembali ke fitrah bahwa tanah Adonara itu bukan identik dengan perang
tanding dan kekerasan tetapi tanah peradaban orang-orang yang giat bekerja,
Bukan
tangan kebal kelewang
Yang
menyentuh hatiku
Tapi
relung mata ina
Yang
tabah mengayuh pelu
Di
los-los pasar
Tanpa
kelu ia terus berjalan
Menyangga
hidup yang kuyup
Sambil
mengingat wajah ama, wajahmu
Yang
pecah
Di
pucuk-pucuk bandar
Keberanian
itu
Seperti
wanita
Di
ranum dadanya
Setiap
laki-laki
Mengibas
sayap-sayap takdir
Bagi yang pernah ke Larantuka atau
Waiwerang pemandangan yang dilukis Bara dalam puisi di atas sesungguhnya kisah
yang terus terjadi dalam geliat orang-orang di Kota Larantuka atau pun
Waiwerang. Sosok perempuan yang dibahasakan dengan ina bukan hanya anggun tapi
juga perempuan pekerja yang ikut menopang ekonomi membantu ama atau lelaki yang menjadi buru di pelabuhan. Kepaduan yang
paling apik dan menjadikan pembaca mengaharu biru adalah deret kata, //keberanian itu/ seperti wanita/ di ranum
dadanya/ setiap laki-laki/ mengibas sayap-sayap takdir//. Diksi Bara dalam
deret kata ini saya kira telah menghipnotis pembaca untuk menyadari bahwa puisi
sebagai sebuah karya seni adalah pengungkapan bersinarnya ide secara indrawi.
Dan Bara menangkap realitas keseharian yang dianggap biasa itu menjadi sebuah
refleksi yang sarat nilai-nilai hidup. Dalam puisi Samudera Cinta Ikan Paus, yang dijadikan judul untuk kumpulan puisi
ini Bara menulis,
Cintaku
kepadamu, perempuanku
Adalah
samudera
Cinta
ikan paus
Dari
benua-benua jauh
Dari
kutub yang dingin
Seorang
diri
Kulalui
siksa laut dalam
Kini
aku terjerat sepenuhnya
Dibiru
tasikmu
Yang
tiada beriak
Songsong
aku
Dengan
peledan-mu
Dan
jangan sisakan
Sedikit
pun keraguan
Biarkan
hatiku menggelepar
Di
runcing tempulingmu
Biarkan
sunyi siripku merapuh
Ke
batas pasir
Ketika
sinar bulan mulai samar di perbukitan
Ketika
angin mendesau sepi, dekap aku
Bagai
martir di ujung tiang
Puisi ini sendiri dapat ditafsir sebagai
sebuah luahan ungkapan cinta yang gigil oleh perjuangan tetapi serentak juga
secara eksplisit mengangkat tradisi untuk menjadi lebih dikenal. Bara tentu
tidak menjadikan tradisi penangkapan ikan paus sebagai sebuah propaganda tetapi
keluhuran dari tradisi itu sendiri sebagai bagian dari kebudayaan orang-orang
Lamalera. Dalam pengantar buku ini Bara sendiri menulis bahwa ikan paus bukan
hanya sekedar spesies purba yang tangguh di laut dalam, tapi juga sosok spiritual
dalam epos nabi Yunus. Di rahim seekor ikan paus itulah nabi Yunus mengambil
jedah untuk memandang kehidupan tidak melalui kacamata darat, tapi kacamata
maritim. Kebermaknaan samudera membuat orang insaf, mengalami pencerahan atas
spirit mencintai. Puisi ini adalah semacam gambaran keintiman penyair dengan
realitasnya membahasakan cinta dalam suasana seperti sedang tertikam tempuling
yang runcing.
Dua
puisi yang hemat saya sangat menarik adalah Gunung
Batu yang Bersila dan Surat dari
Lamahala. Saya kira Bara memiliki pengalaman perjumpaan yang memikat dan
menginspirir sehingga lahirlah dua puisi yang secara khusus dipersembahkan buat
Paul Budi Kleden dan Yoseph Lagadoni Herin. Dalam puisi Gunung Batu yang Bersila, Bara mendeskripsikan dengan bahasa yang
harus ditafsir lebih menukik apa maksud terdalamnya bagi pembaca. Salah satu
penggalan dari puisi itu antara lain;
Di
kaki langit Larantuka
Engkaulah
gunung batu
Yang
bersila
Hening
bagai kaku pohonan
paul,
paul
kau
masih saja sesunyi air sebisu tanah
saat
mata nasib yang jalang
memberiku
isyarat penuh gemuruh
Puisi
di atas dapat diinterpretasi sebagai laku spiritual yang tampak dari tokoh yang
ditulis penyair. Membaca keseluruhan puisi Gunung
Batu yang Bersila, pembaca diajak masuk dalam refleksi penyair
mempertanyakan sesuatu yang hilang dari tanah tempat hidup. Hal ini bisa dibaca
dalam bait lain dari puisi tersebut,
Apa
yang salah?
Hingga
orang-orang kampung butuh kejahatan
Untuk
menjagal diri sendiri
Tak
kutanam dendam di kawah darahku
Meski
mata pisau goreskan luka
Silsislah
dagingku
Diksi penggambaran tokoh sebagai gunung
batu yang bersila memberi uraian impresif tetapi juga serentak pertanyaan bahwa
ada sesuatu (baca, keadaban) yang hilang
dari orang-orang di tanah kelahiran sosok gunung batu yang bersilah itu.
Kebermaknaan gunung batu yang bersila memberi arti bagi penyair untuk taksim
dan mengarahkan orang lewat kontemplasi diri. Tentang ini saya kira luahan yang
telak ada pada deret kata, //tak kutanam
dendam di kawah darahku/ meski mata pisau goreskan luka/ silsislah dagingku. Puisi
dalam bahasa yang seperti ini saya pikir jadi pembelajaran untuk mengoreksi
diri dalam refleksi-refleksi fundamental. Sedangkan puisi Surat dari Lamahala adalah letupan harapan serentak rasa suka duka
berbagi. Bait pertama dari puisi tersebut antara lain,
Dari
lamahala
Hidup
tak cukup hanya dengan satu badai
Laut
makin ganas
Makin
mengombak rindu dendam di hati
Beribu
mata bajak menguntitku
Nanar
seperti tiang layar perahu
Apakah puisi ini adalah bagian lain dari
keluh dan sesal? Bisa saja demikian. Bara sesungguhnya memilih mempersembahkan
puisi ini untuk Yoseph Lagadoni Herin, yang hemat saya adalah salah satu
penikmat sastra tetapi juga pemerhati sastra. Sebagai orang nomor satu di
kabupaten Flores Timur, saya kira puisi ini adalah lecutan perhatian penyair
untuk pemimpinnya. Bara melukiskan secara dramatis suasana yang terjadi dengan
metafora yang apik. Puisi ini sesungguhnya sebuah kritik yang berkualitas untuk
menunjukan perhatian seorang pemimpin bagi rakyat di tanah peperangan/konflik.
Bara Pattyradja sesungguhnya adalah
penyair yang memilih pulang kampung, tanah kelahiran untuk mempertajam
imajinasinya sekaligus menulis tidak hanya untuk personanya tetapi mengangkat,
mengingatkan, dan dengan mata visualnya yang tajam mengajak kita semua
(pembaca) bahwa keadaban budaya itu sesuatu yang mematangkan dan menjadikan
kita bijaksana. Lebih dari itu membuat kita menjadi lebih beradab.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Puisi-Puisi Gody Usnaat-Catatan Redaksi Hengky Ola Sura
POHON SINYAL :buat Anna 1/ sudah dua jam aku duduk di bawa pohon sinyal menanti sinyal datang hinggap dan berki...
-
Setelah 09 Juni 2004, tinggal kami berlima. Saudari kami, nomor empat berpulang dalam matinya yang paling diam. Tak ada pesan, tak ada cerit...
-
Apresiasi untuk buku kumpulan puisi Serumpun Madah di Pintu Janji) Oleh Hengky Ola Sura Mencari siapa yang membuatku ‘jadi’ Itu terlampau su...
